Postcrossing: Berpetualang dengan Si Kartu Pos

Ada yang bilang, kalau saling berkirim surat itu jadul. Ada yang bilang, kalau mengoleksi perangko itu kuno. Ada yang bilang, tukar menukar kartu pos itu baheula. Sudah sering terdengar di telinga saya. Tapi menurut saya, semua itu hanyalah pemikiran bagi mereka yang 'belum' menemukan keasyikan dalam hobi yang unik ini ^^

Awalnya, hobi saya adalah filateli, mengumpulkan perangko-perangko yang menurun dari hobi ibu saya semasa remaja. Kata ibu saya, jaman dulu hits banget gitu, sampai semua anak bersaing mengumpulkan perangko. Saya yang masih SD, penasaran bagaimana sih rasanya mengoleksi perangko. Akhirnya semua koleksi perangko milik ibu saya diberikan ke saya dan, saya 'ditugaskan' untuk melanjutkannya. Wkwkwk.

Saya senang sekali. Suatu hari saya iseng membawa kotak koleksi perangko saya ke sekolah. Teman-teman sekelas pun mengerubungi saya, penasaran dengan barang apa yang saya bawa. Banyak yang ingin memiliki koleksi perangko juga. Lalu saat itu guru saya mengetahui saya mulai mengoleksi perangko, dan menjelaskan kepada anak-anak kelas tentang filateli. Saya merasa femes wkwk, lol, ngga deng, saya merasa senang karena banyak teman-teman yang mulai tertarik juga meskipun hanya dalam hati.

Setelah itu, saya pun sering mengirim surat ke Majalah Bobo dan Kompas Anak (yang terbit setiap hari Minggu). Entah itu mengirim puisi, resep, surat pembaca, Arena Kecil, dan Tak Disangka. Sejak itu, banyak surat yang datang ke rumah, di antaranya mengajak untuk bersahabat pena. Ahay!

Apa sih sahabat pena itu? Sahabat pena adalah jalinan pertemanan melalui surat-menyurat, sehingga asyik banget loh menunggu surat sahabat yang datang, rasanya dag dig dug! Salah seorang sahabat pena saya sewaktu kecil adalah Maria FK Dias, yang masih berteman sampai sekarang ^^

Tetapi, menginjak SMP, saya mulai vakum dalam dunia surat-menyurat maupun filateli. Saya juga lupa sebabnya? Tapi saat itu saya lebih fokus untuk mencoba hobi 'menulis' di platform lain. Nah, setelah lulus dan mulai memasuki SMA, saya gatel banget untuk memulai dunia filateli dan surat menyurat ini. Tetapi saya bertekad untuk melebarkan sayap ke luar negeri....lol. Maksud saya, mencoba mencari sahabat pena di luar negeri. Akhirnya saya searching-searching di eyang gugel, dan menemukan situs menarik: PostCrossing.com dan StudentsofTheWorld.info. Iseng-iseng saya daftar, berharap bisa menemukan seorang sahabat pena. Dannn, setelah beberapa kali mencari, saya menemukan seorang sahabat pena dari situs studentoftheworld. Namanya Tanguy Stupka, dari Perancis. Hehe kapan-kapan saya ceritakan yaa tentang kirim-mengirim surat dan persahabatan pena saya dengannya :D

Eits, karena saya mendedikasikan postingan ini untuk si kartu pos, mari kita melanjutkan topiknya. Beberapa waktu sebelum menemukan sahabat pena, saya pertama mencoba mendaftar di PostCrossing.com. Di situs itu kita bisa saling berkirim kartu pos dari teman-teman di seluruh dunia. Awalnya memang acak dan random, tapi jangan khawatir, semua aman kok. Alamat kita pun hanya diberikan pada orang yang benar-benar akan mengirim kartu pos pada kita. Dan semisal kita cocok dengan kawan tersebut, kita bisa saling direct swap atau tukar-menukar kartu pos (ya seperti sahabat pena sih cuma bedanya yang ini kartu pos. Hihi), pokoknya seru, jadi banyak teman.

Kemudian, tahap awal yang perlu saya lakukan adalah mengirim kartu pos. Kalau enggak salah, saya saat itu mengirim tiga kartu pos. Kemudian menunggu beberapa minggu lamanya kita akan dapat juga kartu pos secara random sejumlah kartu pos yang kita kirimkan.

Kesulitan saya pada saat-saat itu adalah belum 'banyak' kartu pos yang tersedia. Sekalipun tersedia biasanya di toko-toko buku, maka gambar-gambar dan foto di kartu posnya pun kurang variatif dan mahal lol. Maksud saya, itu-itu aja. Selain itu, masih banyak toko-toko di dekat destinasi wisata yang kurang melek dengan kartu pos. Kalau saya misalnya ke daerah X kemudian mencari kartu pos, biasanya yang jual bilang gini "Hah apa? Kartu apa? Masih ada ya jaman sekarang?" Kzl. Padahal, kartu pos terbukti efektif buat meningkatkan pariwisata daerah lohh (pengalaman ibu saya ketika mengunjunhgi beberapa daerah di luar negeri). Untungnya jaman sudah berubah dan Pos Indonesia sudah lebih berdikari untuk mengakomodir kegiatan postcrossing ini, jadi ada banyak juga kartu pos keluaran Pos Indonesia yang lebih variatif ^^ (maklum, kegiatan ini pun salah satu jantungnya Pos Indonesia).

Naah.. Setelah beberapa minggu lamanya, saya mendapatkan kiriman. Ini adalah kartu pos pertama yang saya dapatkan dari PostCrossing.com, dikirim oleh Mrs. Rita dari Denmark ^^

kartu pos dari Denmark tampak depan
Sumpah, saya dahgdigdug serrr banget pas pertama kali menerima kartu pos dari luar negeri wkwk maklum saat itu baru pertama kali ya. Masih cupu juga lol. Rasanya senang, seperti dapat hadiah apa gituuuu.. Ngahaha.

kartu pos dari Denmark tampak belakang
Abaikan mobil yang lewat, tenang saja itu saya ngefotonya di atas motor pas lampu merah kok :')

Kembali ke kartu pos dari Denmark. Kartu pos pertama ini dikirim Mrs. Rita tanggal 23 Maret 2012 dan saya menerimanya tanggal 3 April 2012 (duh ketahuan saya sudah 20an tahun, haha), ya bisa dibilang lima tahunan yang lalu. Fyi, Mrs. Rita ini hits banget loh di Denmark, maklum beliau ini postcrosser sejati, menempati urutan pertama sebagai pengirim postcard terbanyak dari Denmark. Keren pokoknya! Sudah lebih dari 16.000 postcard yang beliau kirimkan ke seluruh dunia.. Haha. Mantap betul ibuk. Salut!

Sejak itu, saya mulai giat untuk mengirim kartu pos dan surat menyurat dengan sahabat-sahabat pena saya (enggak cuma satu, nanti akan saya ceritakan di postingan berikut-berikutnya) (sayangnya, ketika awal-awal kuliah saya sempat vakum lagi, untung sekarang udah kembali lagi hihi). Hobi ini menyenangkan, karena selain menambah wawasan, kita juga bisa mendapatkan jaringan pertemanan secara global, dengan cara yang unik, dan mendapatkan memori yang tidak lekang
oleh waktu.

Comments

  1. Saya sudah lupa kapan terakhir berkirim dan menerima surat, yang ingat terima paket lewat Jne seminggu yang lalu
    Dulu zaman SMP dan SMA masih suka kirim dan terima surat
    duh jadi kangen ke masa itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, benar mbak Maya. Asyik sekali loh, bisa dicoba kembali mbak masa itu :D

      Delete
  2. Halo, mbak Rakyan ^ ^ Makasih ya udah komen di blog saya dan memberi suntikan "semangat" :"))

    Btw, saya pernah coba daftar postcrossing waktu jaman kuliah. Udah beli posnya juga, kalau di Surabaya, toko yg nyediain postcard juga dikit :( . Udah beli, udah mau kirim, tanya kantor pos bayar berapa, ya Allah mahalnya :"(( Jadi pending postcrossing-an sampai sekarang. Haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya mbak, wah biasanya tuh, kalau kirim lewat kantor pos kecil2 emang suka dimahalin mbak. Jadi saya ngirim nya selalu lewat kantor pos besar/pusat. Kirim 1 postcard pakai prangko seharga 5000-7000 tergantung wilayah tujuan ke mana ^^

      Delete
  3. Ya ampun kamu keren bgt, dlu aku iri lhoh sm orang yg punya koleksi perangko. Ud lama bgt ya masa-masa itu. Btw aku mau bgt lhoh diajarin buat ngumpulin prangko gitu. Kalo berkenan bisa japri aku ya rakyan. Salam kenal.

    ReplyDelete
  4. waah, sha baru tau kalau ada komuniatas tukar postcard. Sha juga pertama kali dapet postcard dari salah satu blogger namanya acentris. di kirimin waktu lagi di singapura. dan pas dapet. woooho! senangnya bukan main padahal kata amama, kok tumben dapet paket cuma kertas doang :P

    kalau mama sha dulu, koleksiannya ituu.. bikin kliping nya lady diana. Segala-segala yang di dapet dari koran, majalah di guntingin di kumpulin jadi satu :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts