Pesona Romantika Rasa: Bromo


Ada orang bilang, Bromo merupakan salah satu tempat romantis yang perlu didatangi, setidaknya sekali seumur hidup. Saya mengamininya. Di Bromo, menjejak memori saja tidak cukup tertuang dalam kata-kata. Sebab, pesona Bromo sendiri merupakan gambaran romantika yang memiliki daya magis untuk siapa saja, agar datang kembali.

Saya saat itu berkesempatan untuk pertama kalinya ke Bromo bersama Anja dan teman-temannya (bagi mereka ini yang kedua kalinya). Bagi saya, ini akan menjadi perjalanan yang panjang, sebab setelah dari Bromo saya akan melanjutkan solo traveling ke Bali, berpisah dari rombongan Anja dan teman-temannya. Kami berangkat pagi hari dari Stasiun Lempuyangan hari Kamis, 15 Juni, menaiki KA Logawa tujuan Probolinggo. Sesampai di sana sudah maghrib. Kami agak kesulitan mendapatkan kendaraan menuju Cemoro Lawang. Untungnya, ada rombongan bule yang ingin menuju ke sana juga sehingga kami bersama rombongan bule tersebut menaiki mobil carteran (banyak mobil-mobil di sana yang menawarkan tumpangan ke Cemoro Sewu, harus ditawar ya!) dengan harga yang lebih murah karena sharing tempat bersama mereka. (Ada alternatif lain yakni naik angkot ke terminal, tetapi hanya ada sampai sore hari). Selain itu, kami beruntung karena saat itu bukan weekend, sehingga lebih ekonomis.

Perjalanan menuju Cemoro Sewu menyenangkan, karena kita akan disuguhi dengan pemandangan bintang-bintang bertaburan. Romantis (lagi) hehe. Kalau keadaan langit cerah, kita juga bisa melihat Bimasakti bahkan lewat jendela mobil. Sesampainya ke Cemoro Sewu, kita akan disuguhkan banyak penginapan, baik hotel kecil maupun homestay. Saya sendiri prefer memilih homestay, karena selain harganya lebih murah, di sana kita bisa menawar Jeep yang biasanya tersedia kepunyaan pemilik homestay tersebut.

Dini hari sekitar pukul 3, kami menaiki Jeep untuk menuju Pananjakan 1. Jalannya berkelok-kelok tajam dan jauh. Memakan waktu karena susahnya medan yang ditempuh. Saya membayangkan seandainya beneran naik Pananjakan 1 dengan berjalan kaki, duh gimana ya, haha (karena awalnya saya ngeyel untuk jalan kaki saja, untung enggak jadi). Sesampainya di sana, Anja dan teman-teman mengisi perut di warung yang ada untuk sekalian sahur (untung saya lagi 'libur' juga, hihi). Ternyata, wisatawannya bule semua. Saya pun bertanya pada salah satu tour guide kenapa kok tidak ada wisatawan indo selain kami, katanya karena ini bulan puasa dan kebanyakan bule sudah musim liburan sementara wisatawan indo belum. Haha, untung saya bersama Anja dan teman-teman sedang libur kuliah :D

Setelah itu kami mulai naik ke atas area Pananjakan 1, yang luar biasa dingin dan basah. Saya menyesal tidak membawa jaket tebal. Saat itu kami berpikir apa menyewa jaket saja ya, tapi ternyata penyewaan-penyewaan jaket di sana yang ditawarkan orang-orang lokal tidaklah murah. Okelah, akhirnya kami menunggu fajar di mushola dekat gardu pandang agar tidak terlalu dingin.

Selanjutnya, setelah Anja dan teman-teman subuhan, kami menuju gardu pandang. Sayangnya, di sana agak mendung, sehingga sunrise kurang terlihat indah. Tapi enggakpapa, yang penting momen kebersamaannya. Hihi.


Sunrise pun berlalu, kami segera turun menuju Pasir Berbisik. Sebelum turun, kami sempat foto-foto di dekat jalan menurun, yang ternyata tidak kalah indah. Kami bisa merasakan suasana alam yang jauh dari keramaian.


Langit masih berkabut ikut serta menyelimuti rasa tenang yang kami dapatkan. Saya pun merasa diri ini kecil, sebab berdiri di tempat yang tinggi membuat saya tahu bahwa Tuhan menciptakan alam Indonesia dengan kesungguhan cinta-Nya.


Tentunya saya bersedia menikmati alam yang disuguhkan ini berlama-lama. Tetapi, sayangnya Anja dan teman-teman harus mengejar kereta untuk kembali ke Jogja pada siang hari. Sehingga mau tidak mau saya dan mereka harus segera turun dari Pananjakan 1.


Kami pun menuruni jalan yang berkelok-kelok saat kami berangkat tadi. Ternyata, sungguh indah! Kiri kanan jalan banyak sekali pohon-pohon pinus yang bertebaran, kita juga bisa melihat titik-titik rona sinar matahari yang mencoba mengintip dari balik bukit Teletubbies dan pegunungan yang berbaris. Tidak bisa berlama-lama, kami segera menuju Pasir Berbisik sebelum berpamitan dengan Bromo.


Di Pasir Berbisik kita bisa melihat banyak sekali kuda disewakan untuk berjalan-jalan di atas daratan pasir yang berhambur luas. Ada juga Pura Luhur Poten yang berdiri kokoh, tempat umat Hindu beribadah di sana. Banyak umat Hindu yang beribadah pagi di sana. Selain itu kita juga bisa melihat Gunung Batok yang sudah tidak aktif lagi serta gumpalan asap dari kawah Bromo yang selalu aktif.

Tentunya, mengelilingi Bromo dalam setengah hari rasanya masih sayang dan ada yang kurang. Rasanya ingin menginap sehari lagi, sehari lagi, dan sehari lagi. Semoga di lain waktu, bisa mengulang memori ini kembali.



Bromo
Lokasi: Jawa Timur
Transportasi: Kereta via St. Probolinggo atau pesawat via Surabaya/Malang
Waktu tempuh: 1,5-2 jam via St. Probolinggo
Biaya perjalanan: KA Logawa IDR 75000, carteran mobil St. Probolinggo-Cemoro Sewu IDR 85000/orang (min 5 orang), Jeep IDR 400.000/half day atau 500.000/full day (max.5 orang)

Comments

  1. Aku ingin sampai di sana bersamanya suatu saat nanti semoga saja ini terwujudkan, sering mendapat cerita tentang keindahan daeeah wisata Bromo

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin, iya mbak, memang bagus sekali di sana ^^

      Delete
  2. Ingin juga menapakkan kaki ke Bromo, suatu hari nanti..

    Btw, bromo itu yang dipake dalam film laundya cintya bella itu bukan ya mb. Yang duet sama morgan, love spark in Korea apa ya judulnya..soalnya aku lihat foto mba..ingat film itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh kalau itu film nya BCL bun sama morgan, haha. mereka syutingnya di taman nasional baluran bun, banyuwangi ^^ memang kalau dari jauh gunung nya hampir seperti di bromo.

      Delete
  3. Jadi iri nih, pengen juga ke bromo, pengen lihat keindahan bromo dari mata sendiri.

    Mudahan ak juga bisa ke bromo

    BTW mau lanjutkan perjalanan ke bali iya, mudahan selamat sampai tujuan iya.

    Ditunggu cerita selanjutnya

    ReplyDelete
  4. hm pacarannya jauh amat rakyan....
    dah kamu review novel terbaru aja lho... hahaha...
    lah, aku sering makan di feb lho... aku di fisipol pascasarjana

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha mbak, padahal aku sering nya ke kantin fisipol, kapan2 pengen ketemu mbak nesya ah minta tanda tangan :D

      Delete
  5. temen sha ada yang mimpi banget pengen ke bromo, pas nikah dia honeymoon ke bromo. senengnyaa bukan main :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, happy ending banget sih mba ^^

      Delete
    2. iya banget, dan kesampean haha

      Delete
  6. asik dan beneran romantis banget ya, tapi sih dimanapun kalau bersama sang kekasih mah jadi romantis aja sih...

    tapi...emang yakin jodohnya bakalan dia?...hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts